Soal Dugaan Pungli Samsat, Sabiring: Bukan Anggota UPT Namun Oknum yang di Loket

oleh -1.845 views
H. Sabiring

BULUKUMBA, BERITA SELATAN, Com –
Kantor UPT Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Bulukumba mengungkapkan bahwa dugaan pungli yang kini menguak itu bukan dari pihaknya, namun dilakukan oleh oknum yang ada di loket.

“Ini juga perlu diketahui bahwa bukan dari anggota UPT Samsat namun dari oknum yang di loket,” ungkap kepala kantor UPTD Samsat Bulukumba, H. Sabiring, Jumat, 14 Juni 2019.

Menanggapi hal tersebut tentu sebagai pimpinan memberikan respon positif untuk mencari tau atau mengusut tuntas persoalan ini.

BACA JUGA:   Bulukumba Raih Penghargaan KLA Madya

“Kami juga mau sampaikan bahwa dikantor Samsat ada tiga istansi diantaranya Dispenda, Polisi, dan jasa raharja.”terangnya.

Sebelumnya salah seorang warga kembali mengeluhkan pelayanan di kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Bulukumba.

Warga Bulukumba Ramil Syam mengatakan, kerabatnya Ilsa Agustina Syahna, diduga menjadi korban Pungutan Liar (Pungli).

“Perpanjangan STNK dan ganti plat, dikenakan biaya sebesar Rp 490 ribu. Padahal saat dicek online melalui twitter Bapenda Sulsel, biaya yang seharusnya dia bayar hanya Rp360 ribu,” ungkap Ramil, Rabu, 12 Juni 2019.

BACA JUGA:   Wabup Edy Manaf Resmikan Masjid di Kampung Manyake Desa Ara

Pembayaran lebih menjadi bukti, jika ada pungli di kantor Samsat Bulukumba.

Ramil juga menanyakan langsung dengan pegawai bersangkutan, terkait kelebihan pembayaran tersebut.

Hanya saja, oknum petugas tersebut memiliki alasan tersendiri.

“Saya tanya langsung sama itu pegawai soal kenapa pembayarannya lebih dari biaya totalnya. Dia bilang, tidak dicek memang total biayanya, karena padat antrian dan banyak orang jadi lama prosesnya,” ungkap Ramil sesuai dilansir TRIBUN.

BACA JUGA:   Libur Lebaran, RSUD Bulukumba Jamin Stok Obat dan Pelayanan Prima

Sehingga langsung menetapkan biaya Rp 490 ribu, dan berjanji akan mengembalikan uangnya.

Namun Ramil menilai, tindakan oknum tersebut tak patut dilakukan. Pasalnya, memberikan ruang untuk melakukan pungli.

“Syukur-syukur kalau orangnya tahu. Bagaimana kira-kira kalau tidak tahu. Dikemanakan mi uangnya,” sesal Ramil. (*)